Bab I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Manusia
merupakan makhluk sosial, oleh karena
itu kehidupan manusia selalu ditandai dengan pergaulan antar manusia. Pergaulan
itu dapat dilakukan dalam lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, organisasi
sosial dan lain-lain. Pergaulan manusia juga merupakan salah satu bentuk
komunikasi dalam masyarakat yang nantinya akan menjadi dasar dalam melakukan
hubungan atau interaksi antar individu. Karena komunikasi sangat erat kaitannya
dengan hubungan interpersonal.
Komunikasi yang
efektif di tandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Untuk menumbuhkan dan meningkatkan hubungan
interpersonal, kita perlu meningkatkan kualitas komunikasi lebih jauh. Jalaludin rahmat (1994)
memberi cacatan bahwa terdapar tiga faktor dalam komunikasi antarpribadi yang
menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik, di anataranya sikap percaya,
perilaku suportif, dan sikap terbuka. Dari tiga faktor tersebut sangat
berpengaruh terhadap komunikasi antarpribadi untuk membangun komunikasi yang
efektif.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli tentang sikap suportif, maka orang
bersikap suportif, maka orang bersikap suportif bila seseorang dapat
menyampaikan perasaan tanpa menilai dan cenderung mampu berkerjasama dalam
mencari pemecahan masalah tanpa mendiktekan pemecahan masalah kepada orang
lain. Seseorang yang mempu berkerjasama berarti dia mampu untuk berempati
kepada orang lain, sehingga seseorang dapat memperlakukan orang lain tanpa
membeda-bedakan. Seseorang yang suportif akan memperlakukan orang lain penuh
rasa hormat dalam perbedaan pandangan. Memaklumi dan menganggap pendapat orang
lain.
Bab II
PEMBAHASAN
A.
Sikap Suportif
Sikap suportif adalah sikap
yang mengurangi sikap defenisif dalam komunikasi. Defenisif di ambil dari kata defensive yang artinya bertahan atau
melindungi diri. Orang bersikap defensifbila ia tidak menerima, tidak jujur,
dan tidak empatis. Sudah jelas, dengan sikap defensif komunikasi interpersonal
akan gagal karena orang defensif akan lebih banyak melindungi diri dari ancaman
yang ditanggapinya dalam situasi komunikasi ketimbang memahami pesan orang
lain. ( Jalaluddin Rakhmat, 2012 : 132 ).
Komunikasi defensif dapat
terjadi karena faktor-faktor personal (ketakutan, kecemasan, harga diri yang
rendah, pengalaman defensif dan sebagainya ) atau faktor-faktor situasional.
Diantara faktor-faktor situasional adalah perilaku komunikasi orang lain. Jack
R. Gibb (dalam Jalaluddin Rakhmat, 2013 : 132 ) mengemukakan enam tipe perilaku
berlawanan yang memberikan kontribusi terhadap terbentuknya iklim komunikasi
yang suportif dan defensif. Berbeda dengan iklim suportif, iklim defensif
menyebabkan penurunan produktivitas. Kunic untuk membentuk iklim komunikasi
menurut Beebe dan Masterson bahwa iklim komunikasi tidak hganya bergantung pada
apa yang dikomunikasikan, namun lebih pada bagaimana cara mengkomunikasikannya.
Berikut keenam perilaku berlawanan ( defensif dan suportif ) menurut Jack Gibb
:

Perilaku defensif dan suportif
dari Jack Gibb
Iklim Defensif Iklim
Suportif
1.
Evaluasi 1. Deskripsi
2.
Kontrol 2. Orientasi
Masalah
3.
Strategi 3. Spontanitas
4.
Netralitas 4. Empati
5.
Superioritas 5. Persamaan
6.
Kepastian 6.
Provisionalisme
Dalam penelitian Gibb diungkapkan bahwa makin sering orang menggunakan perilaku sebelah kiri ( Iklim Defensif ), makin besar kemungkinan komunikasi menjadi defensif sebaliknya, komunikasi defensif berkurang dalam iklim suportif, ketika ketika orang menggunakan perilaku di sebelah kanan ( Iklim Suportif ). ( dalam Jalaluddin Rakhmat, 2012 : 132-134 ) menjelaskan daftar tersebut secara terperinci :
1.
Evaluasi dan
Deskripsi
Evaluasi artinya penilaian terhadap orang lain; memuji
atau mengecam. Dalam mengevaluasi, kita mempersoalkan nilai dan motif orang
lain. Bila kita menyebutkan kelemahan orang lain, mengungkapkan betapa jelek
perilakunya, meruntuhkan harga dirinya, kita akan melahirkan sikap defensif.
Deskripsi artinya penyampaian perasaan dan persepsi anda tanpa menilai. Pada
evaluasi, anda umumnya menggunakan kata-kata sifat (salah, ngawur, bodoh). Pada
deskripsi, biasanya anda menggunakan kata-kata kerja (anda tidak menyebutkan
pencipta sonata musim semi; anda sering kali berpindah dari satu persoalan ke
persoalan lain; anda tidak mengikuti perkembangan terakhir dalam bidang ini)
kita dapat melakukan evaluasi pada gagasan bukan pada pribadi (walaupun banyak
orang merasa dirinya diserang, ketika gagasannya dipersoalkan). Deskripsi dapat
terjadi juga ketika kita mengevaluasi gagasan orang lain, tetapi orang “merasa”
bahwa kita menghargai diri mereka (menerima mereka sebagai individu yang patut
dihargai).
2.
Kontrol dan
Orientasi Masalah
Perilaku kontrol artinya berusaha untuk mengubah orang lain,
mengendalikan perilakunya,
mengubah sikap,
pendapat, dan tindakannya.
Melakukan control juga berarti mengevaluasi orang lain sebagai orang yang
jelek sehingga perlu diubah. Itu berarti kita tidak menerimanya. Setiap
orang tidak ingin didominasi orang lain.
Kita ingin menentukan perilaku yang kita senangi. Oleh karena itu, kontrol orang lain
akan kita tolak. Orientasi Masalah sebaliknya adalah mengkomunikasikan keinginan untuk bekerja sama mencari pemecahan masalah. Dalam orientasi masalah, anda tidak mendiktekan pemecahan. Anda mengajak orang lain bersama-sama untuk menetapkan tujuan dan memutuskan bagaimana mencapainya.
3.
Strategi dan
Spontanitas
Strategi adalah penggunaan tipuan-tipuan atau manipulasi untuk memengaruhi orang lain.
Anda menggunakan strategi bila orang menduga anda mempunyai motif-motif
tersembunyi; Anda berkomunikasi dengan “udang di
balikbatu”. Spontanitas artinya sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang
terpendam. Bila orang tahu kita melakukan strategi, ia akan menjadi defensif.
4.
Netralitas dan
Empati
Netralitas berarti sikap impersonal atau memperlakukan orang
lain tidak sebagai personal,
melainkan sebagai objek. Bersikap netral bukan berarti tidak objektif, melainkan menunjukkan sikap tak acuh, tidak menghiraukan perasaan dan pengalaman orang lain. Lawan netralitas ialah Empati atau memahami orang lain.
Tanpa empati,
orang seakan-akan “mesin” yang hampa perasaan dan tanpa perhatian.
5.
Superiorutas dan
Persamaan
Superioritas artinya sikap menunjukkan Anda lebih tinggi atau lebih baik daripada orang lain karena status,
kekuasaan, kemampuan intelektual,
kekayaan, atau kecantikan
(Dalam istilah
Islam, ini disebut takabur). Superioritas akan melahirkan sikap defensif. Persamaan adalah sikap memperlakukan orang
lain secara
horizontal dan demokratis.
Dalam sikap persamaan, Anda tidak mempertegas perbedaan. Status boleh jadi berbeda, tetapi komunikasi Anda tidak vertikal. Anda tidak menggurui, tetapi berbincang pada tingkat yang sama.
Dengan persamaan,
Anda mengkomunikasikan penghargaan dan rasa hormat pada perbedaan pandangan dan keyakinan ( Dalam istilah Islam, ini disebut tawadlu’).
6.
Kepastian dan
Provisionalisme
Dekat dengan superioritas adalah Kepastian (certainly). Orang yang memiliki kepastian bersifat dogmatis, ingin menang sendiri, dan melihat pendapatnya sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat diganggu gugat. Provisionalisme, sebaliknya,
adalah kesediaan untuk meninjau kembali pendapat kita, untuk mengakui bahwa pendapat manusia adalah tempat kesalahan; karena itu wajar juga kalau satu saat pendapat dan keyakinannya bisa berubah (“Provisional”, dalam bahasa inggris, artinya bersifat sementara atau menunggu sampai ada bukti yang lengkap).
( Devito, 2011: 289 ) menjelaskan bawah bersikap provisional
artinya bersikap
tentative dan berpikiran terbuka serta bersedia mendengar pandangan yang
berlawanan dan bersedia mengubah posisi jika keadaan mengharuskan.Provisionalisme seperti itulah, bukan keyakinan yang tak tergoyahkan,
yang membantu menciptakan suasana mendukung.
Kita
tidak menyukai
orang yang “tahu segalanya”
dan orang yang selalu mempunyai jawaban pasti untuk setiap pertanyaan.Orang
seperti ini terpaku dengan caranya sendiri dan tidak menoleransi adanya perbedaan. Mereka siap dengan argument terhadap setiap kemungkinan sikap atau keyakinan yang
berbeda.Segera saja,
Anda akan bersikap defensive terhadap orang seperti ini, dan Anda akan berkeras dengan pendirian Anda sendiri. Tetapi Anda bersikap terbuka kepada orang yang
mengambil posisi
provisional dan maumengubah pendapat mereka bila memang itu perlu dilakukan.Dengan orang
seperti itu Anda merasa setara.
Bila Anda bersikap yakin tak tergoyahkan dan berpikiran tertutup, Anda mendorong perilaku defensive pada diri pendengar. Bila Anda bertindak secara provisional
dengan pikiran terbuka, dengan kesadaran penuh bahwa Anda mungkin saja keliru, dan dengan kesediaan untuk mengubah sikap dampen dapat Anda, Anda mendorong sikap mendukung.
Bab III
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan yang di terapkan di atas dapat
disimpulkan bahwa suportif memiliki peluang yang lebih besar untuk terciptanya
efektivitas komunikasi. Baik dalam keluarga, lingkungan tempat tinggal kita, di
dalam lingkungan kerja, atau di lingkungan yang lebih luas lagi. Namun, tidak
sedikit orang yang egonya terlampau tinggi, yang selalu merasa benar, sehingga
rentan melahirkan konflik ketika berkomunikasi atau berhubungan dengan pihak
lain.






0 komentar:
Posting Komentar